Senin, 07 Juni 2010

jangan dan jangan lagi

Jangan,jangan dan jangan lagi


Teduh,tak pernah lagi terungkap dari mereka
Panas,pengap hanya itu,itu dan itu lagi terasa
Sang lanskap tampak pekat ,berwarna abu-abu
Mana kota kecilku dulu? Kota teduh nan rindang

Mana,mana? Tak tampak lagi pohon perindang
Semuanya termangsa sang gergaji mesin
Gergaji mesin itu dengan lahapnya memotong
Satu,satu,satu dan seterusnya

Kota kecilku kini dengan malu-malu
Menunjukan dan memamerkan perubahannya
Ya,perubahannya..kini tlah berubah menjadi sebuah hutan
Hutan beton-beton yang terus bertumbuh subur

Semakin tinggi-tinggi dan terus mencoba untuk menjadi yang tertinggi
Tanaman-tanaman beton itu dengan gigihnya bersaing
Bersaing untuk menjadi yang tertinggi di kotaku

Jangan,jangan dan jangan lagi
Jangan ada lagi yang kau mangsa tuan gergaji mesin
Tamanan kota,pohon perindang,sebanyak apakah yang kau mau?
Jangan ku mohon jangan lagi…aku mau kota kecilku dulu…aku mau itu, bukan yang tampak kini