Jangan,jangan dan jangan lagi
Teduh,tak pernah lagi terungkap dari mereka
Panas,pengap hanya itu,itu dan itu lagi terasa
Sang lanskap tampak pekat ,berwarna abu-abu
Mana kota kecilku dulu? Kota teduh nan rindang
Mana,mana? Tak tampak lagi pohon perindang
Semuanya termangsa sang gergaji mesin
Gergaji mesin itu dengan lahapnya memotong
Satu,satu,satu dan seterusnya
Kota kecilku kini dengan malu-malu
Menunjukan dan memamerkan perubahannya
Ya,perubahannya..kini tlah berubah menjadi sebuah hutan
Hutan beton-beton yang terus bertumbuh subur
Semakin tinggi-tinggi dan terus mencoba untuk menjadi yang tertinggi
Tanaman-tanaman beton itu dengan gigihnya bersaing
Bersaing untuk menjadi yang tertinggi di kotaku
Jangan,jangan dan jangan lagi
Jangan ada lagi yang kau mangsa tuan gergaji mesin
Tamanan kota,pohon perindang,sebanyak apakah yang kau mau?
Jangan ku mohon jangan lagi…aku mau kota kecilku dulu…aku mau itu, bukan yang tampak kini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar